Kamis, 06 Desember 2012

tasawuf dan mistik



BAB I
Pendahuluan
1.1 latar belakang

1.2  Rumusan Masalah
a.      Apa itu pengertian mistik?
b.      Apa perbeadaan dan persamaan antara tasawuf dan mistik?
c.       Bagaimana mistisme dalam islam?
1.3  Tujuan
Agar lebih mengetahui bagaimana sifat orang sufi dan mistikus, perbedaan dan persamaan keduanya sehingga dalam mengeluarkan ideologi atau pemikirannya untuk masyarakat yang baik dapat menjadi tauladan.

BAB II
PEMBAHASAN
TASAWUF DAN MISTIK
2.1  Pengertian Mistik
Secara sudut bahasa perkataan akhlak adalah bentuk jamak dari kata khulk, yang bermakna budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat.[1] Sedangkan menurut prof.Dr. Ahmad Amin mengatakan bahwa akhlak ialah kebiasaan kehendak. Ini berarti bahwa kehendak itu bila dibiasakan akan sesuatu maka akan menjadi akhlak.[2]
Menurut asal katanya, mistik berasal berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia, serba rahasia, tersembunyi, gelap, atau terselubung dalam kekelaman. Dalam buku De Kleine W.P. Encylopaedie (1950) karya G.B.J. Hiltermann dan Van De Woestijne, kata mistik berasal dari bahasa Yunani myein yang artinya menutup mata. Kata mistik sejajar dengan kata Yunani lainnya musterion yang artinya suatu rahasia. Paham mistik dilihat dari segi materi ajarannya dapat dipilah menjadi dua, yaitu paham mistik keagamaan, yang terkait dengan tuhan dan ketuhanan, dan paham mistik non-keagamaan, yang tidak terkait dengan ketuhanan.[3]
Dalam kata mistik itu terkandung sesuatu yang misterius, yang tidak dapat dicapai dengan cara-cara biasa atau dengan usaha intelektual. Mistik telah disebut sebagai “arus besar kerohanian yang mengalir dalam semua agama.” Dalam artinya yang paling luas, mistik bisa didefenisikan sebagai kesadaran terhadap kenyataan tunggal – yang mungkin disebut kearifan, cahaya, cinta atau nihil.[4]
Namun, defenisi-defenisi semacam itu hanya sekadar petunjuk saja. Sebab kenyataan yang menjadi tujuan mistik, dan apa yang tak terlukiskan, memang tidak bisa dipahami, dijelaskan dan diungkapkan dengan cara persepsi apapun; baik filsafat maupun penalaran logis. Hanya kearifan hati, gnosis, ma`rifah, yang bisa mendalami beberapa di antara seginya. Diperlukan sebuah pengalaman rohani yang tidak tergantung pada metode-metode indera dan fikiran.
Dari pengertian mistik di atas, dapat diketahui bahwa mistik bersifat universal, terdapat di semua agama, bersifat rahasia dan sulit dicermati secara ilmiah. Khusus dalam Islam, paham mistik disebut tasawuf atau sufisme. Tasawuf yang berkembang di Indonesia telah mengalami perkembangan dan pada sebagian ajarannya telah dipengaruhi oleh berbagai kepercayaan pra-Islam dan ajaran Hindu-Budha. Paham semacam ini disebut sebagai Islam kebatinan. Paham ini melakukan sinkretisme antara ajaran tasawuf dengan ajaran kebatinan di luar Islam. Di Indonesia, paham Islam kebatinan ini kemudian berkembang menjadi berbagai macam aliran-aliran kepercayaan dan kebatinan. Pada perkembangannya, aliran-aliran tersebut kelihatan sudah jauh meninggalkan ajaran Islam yang murni, bahkan hampir tidak ada kaitan sama sekali dengan ajaran Islam.
Tasawuf atau mistisme adalah filsafat hidup yang dimaksudkan untuk meningkatkan jiwa seorang manusia, secara moral, lewat latihan-latihan praktis yang tertentu, kadang untuk menyatakan penemuan fana dala, realitas yang tertinggi, tidak secara rasional, yang buahnya ialah kebahagiaan rohaniah, yang hakelat realitasnya sulit diungkapkan dengan kata-kata.[5]
Definisi ini diambilan dari kesimpulan corak karakteristik tasawuf atau mistisme, yang menurut pendapat Dr. Abu al-wafa’ al-gharnimi al-taf tazani tasawuf atau mistisme pada umumnya memiliki lima ciri yang bersifat psikis, moral, dan epistermologis, yang sesuai dengan tasawuf atau mistisme tersebut. Kelima ciri tersebut adalah:
a.       Peningkatan moral
Setiap tasawuf atau mistisme memiliki nialai-nilai moral tertentu yang tujuanya membersihkan jiwa, untuk perealisasian nialai-nilai itu.  Dengan sendirinya, hal ini memerlukan latihan fisik-psikis tersendiri, serta pengengkangan dri dari materialisme duniawi.
b.      Pemenuhan fana dalam realitas mutlak
Hal ini yang membutuhkan latihan-latihan fisik dan psikis sehingga seorang sufi atau mistikus sampai pada kondisi psikis tertentu, dimana dia mencapai dititik yang tertinggi. Meskipun begitu, karakteristik kedua ini dapat ditemukan pada semua sufi dan mistikus.
c.       Pengetahuan intutif langsung
Hal ini yang membedakan tasawuf dan mistisme dari filsafat. Apabila dengan filsafat, yang dalam memahami realitas mempergunakan metode-metode intelektual,  maka di sebut seorang filosof, sedangkan ia yang berkeyakainan atas metode yang lain bagi pemahaman hakekat realityas dibalik persepsi inderawi dan penalan intelektual, ini di sebut sufi atau mistikus.
d.      Ketentraman atau kebahagiaan
Ini merupakan karakteristik antara sufi dan mistikus, karena keduanya diniatkan sebagai petunjuk atau pengendali hawa-nafsu, serta pembangkit keseimbangan psikis pada diri seorang sufi ataupun mistikus.
e.       Penggunaan simbol dalam ungkapan-ungkapan
Yang dimaksuddengan menggunakan simbol adalah bahwa ungkapan-ungkapan yang dipergunakan para sufi atau mistikus itu mengandung 2 pengertian, yaitu :
·         Pengertian yang ditimba dari harfiah kata-kata
·         Pengertian yang ditimba dari analisa serta pendalaman
Pengertian keduanya ini sangat kabur bagi orang yang bukan sufi atau mistikus, dan bagi oarang bukan sufi atau mistikus sulit untuk memahami ucapan para sufi atau mistikus dapat memahami maksud dan tujuan mereka.
2.2  Perbedaan Antara Tasawuf dan Mistik
Kata tasawuf sudah sering terdengar, tetapi pengertian tentang tasawuf masih kabur dalam beragam makna yang adakalanya kadang saling bertentangan. Hal ini terjadi karena tasawuf atau mistisme telah jadi semacam berbagai filsafat, kebudayaan dan yang lainya dalam berbagai kurun masa. Dalam kenyataannya setiap sufi atau mistikus selalu mengungkapkan pengalamannya dalam kerangka ideologi dan berkembang dlam masyarakat.
Dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa pengalaman para sufi dan mistikus itu adalah sama. Perbedaan mereka diantaranya hanyalah karena ketidak interprestasi atas pengalaman itu sendiri.[6]
Dengan tersendirinya terdapat pula perbedaan tujuan tasawuf atau mistisisme, sesuai dengan perbedaan fase-fase pertingkatan tersebut. Misalnya, sebagian sufi atau mistikus telah berhenti hanya sebatas tujuan moral saja, yaitu meluruskan jiwa, mengendalikan kehendak, yang membuat manusia hanya konsisten terhadap keluhuran moral. Tasawuf atau mistisisme yang begini lebih bersifat mendidik, yang ditandai dengan coraknya yang praktis.
Sementara sebagian sufi atau mistikus lainnya memiliki tujuan yang lebih jauh lagi, yaitu mengenal Allah. Dan demi terealisasinya tujuan ini, mereka pun membuat syarat-syarat khusus. Para penenmpuh tasawuf atau mistisisme ini, khususnya lebih banyak menaruh perhatian terhadap bahasa natas metode serta sarana untuk mengenal Allah, yang antara lain ialah kasyf (penyingkapan langsung).
Selain itu terdapat bentuk tasawuf atau mistisisme yang ditandai corak filosofis.Para penempuhnya mencanangkan tasawuf atau mistisisme ini sebagai penentu sikapnya terhadap semesta dalam upaya mereka mendapatkan penjelasan tentangnya, dan juga untuk menentukan garis hubungan semesta dengan khalik, dan hubungan manusia dengan-Nya. Aliran tasawuf atau mistisisme yang ditandai corak filosofis ini hendaknya jangan dipandang sebagai aliran murni filsafat. Sebab aliran ini pada dasarnya berlandaskan penyingkapan langsung (kasyf) atauintuisi, sekalipun berbaju filsafat. Disaat-saat tertentu, sang sufi atau mistikus itu kadang kehilngan kesadaran dirinya sendiri, dan dia merasa bahwa jagat besar ini tidak berarti sama sekali disbanding kemahaan Allah. Dalam beberapa situasi, terkadang muncul aliran-aliran tasawuf atau mistisisme tertentu (seperti aliran panteisme, bulul atau penyatuan dengan Tuhan). Akan tetapi sebagaimana telah dikemukan di atas, aliran-aliran tersebut pada dasarnya tidak keluar dasarnya dari cita-rasa khusus, yang membuatnya jelas sepenuhnya berbeda dan berlainan dari struktur-struktur pemikiran yang berdasarkan landasan pembuktian secara intelektual yang ketat, yang telah digaris oleh para filosof.
Dengan begitu, tasawuf atau mistisisme itu pertama-tama adalah semacam pengaaman khusus, dan bukannya semacam kondisi yang sama-sama dapat dialami olehsemua orang. Setiap sufi atau mistikus mempunyai cara tersendiri dalam mengungkapkan kondisi dirinya. Dengan kata lain, pengalaman dirinya bersifat subyektif. Dan hal inilah yang mendekatkan tasawuf atau mistisisme dengan kesenian, dimana para penempuhnya mendasarkan diri pada introkspeksi dalam mendeskripsikan kondisi mereka.Juga, dalam mengungkapkan dirinya itu mereka meminjam simbol-simbol. Peminjaman ini mereka maksudkan untuk sekedar menyembunyikan kasyif dari orang-orang yang tidak layak mengetahuinya. Karena itu ada sebagian sufi menyatakan bahwa banyak jalan menuju Allah adalah sebanyak jumlah jiwa manusia. Dan ini semacam penekanan sikap mereka terhadap adanya berbagai perbedaan yang individual, antara seorang sufi dengan sufilainnya, dan tidak mungkinnya menerapkan suatu pengalaman pada pengalaman lain dalam medan tasawuf atau mistisisme ini.[7]
2.3  Mistisme dalam Islam
Mistisisme dalam islam diberi nama Tasawuf dan oleh kaum orientalis barat disebut sufisme. Kata sufisme dalam istilah orientalis barat dipakai untuk mistisisme islam Sufisme tidak dipakai untuk mistisisme yang terdapat diagama-agama lain. Tujuan dari tasawuf itu sendiri ialah untuk memperoleh hubungan langsung dengan tuhan, menyatu dengan tuhan dan seseorang itu menyadari akan kehadirat tuhan. Dan intisarinya ialah menyadari akan adanya tuhan dapat berkomunikasi dan berdialog antara roh manusia dan tuhan dan biasanya dilakukan dengan kontemplasi atau mengasingkan diri. Dan dalam islam kesadaran dengan tuhan itu dapat juga dinamakan dengan ittihad yaitu bersatu dengan Tuhan. Sedangkan Tasawuf adalah suatu ilmu penegtahuan yang mempelajari bagaimana cara dan jalan seorang manusia supaya dapat lebih memdekatkan diri dengan Tuhan yaitu Alloh Swt .
Mistisisme ini muncul sebagai pemberontakan jiwa, dalam diri orang-orang yang benar-benar berpikiran ruhaniah, yang menentang formalitas agama dan juga kejumudan agama, yang selanjutnya terpengaruh oleh perasaan bahwa manusia bisa menjalin sebuah hubungan langsung dengan Tuhan, yang tidak boleh dianggap sebagai Dzat Penguasa Penuh Kuasa yang berjarak atas takdir-takdir manusia, tetapi sebagai Sahabat dan Kekasih Jiwa. Kaum mistikus memiliki hasrat mengenal Tuhan, sehingga mereka bisa mencintai-Nya, dan telah percaya bahwa jiwa dapat menerima: wahyu Tuhan, melalui sebuah pengalaman religius langsung – bukan melalui indera-indera atau kecerdasan – dan, dengan cara ini, memasuki keintiman dengan-Nya.
Mereka percaya bahwa manusia dapat memiliki pengalaman ini, pastilah ada dalam dirinya satu bagian dari Sifat Ilahiah, bahwa jiwa diciptakan untuk mencerminkan Kemegahan Tuhan, dan segala sesuatu ambil bagian dalam kehidupan Tuhan. Tetapi kaum mistikus mengajarkan bahwa tak satu jiwa pun memiliki pengalaman langsung dengan Tuhan, kecuali dengan penjernihan dari dalam diri; pembersihan jiwa dari kecintaan pada diri sendiri dan dari hawa nafsu adalah bagian mendasar bagi mereka yang hendak mencapai Kebajikan dan Penglihatan Tuhan, demi kesempurnaan Kehidupan Abadi, yang mereka percaya dapat dicapai sekarang, adalah untuk melihat Tuhan dalam Dzat-Nya. Keakuan dapat ditaklukkan dengan dukungan sebuah cinta yang lebih besar daripada kecintaan-diri, dan karenanya kaum mistikus telah menjadi kekasih-kekasih Tuhan, yang mencari penyempurnaan cinta mereka dalam penyatuan dengan Sang Kekasih .
Di zaman al-ghazali, pemikiran ia merupakan upaya untuk membatasi penghayatan mistik dengan penghayatan qurbah (amat dekat dengan dzat tuhan). Oleh karane itu al-ghazali menyalahkan paham hulul, ittihad, dan whusul, sebagai paham union mistik atas dasar khayalan belaka. Kemudian al-ghazali menyusun ajaran baru tentang tasawuf yang dipandang ideal. Tapi paham union mistik tersebut tidak dapat dimatikan, walaupun pengaruh tasawuf al-ghazali pada saat itu berpengaruh besar.[8] Setelah zaman al-ghazali banyak sekali pham mistik atau sufi yang bermunculan, bahkan union mistik mecapai puncaknya setelah zaman al-ghazali ini.

BAB III
KESIMPULAN
Dari beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa mistis dalam agama islam disebut juga Sufi atau Sufisme, mereka beranggapan bahwa manusia bisa menjalin sebuah hubungan langsung dengan Tuhan, yang tidak boleh dianggap sebagai Dzat Penguasa Penuh Kuasa yang berjarak atas takdir-takdir manusia, tetapi sebagai Sahabat dan Kekasih Jiwa. Kaum mistikus memiliki hasrat mengenal Tuhan, sehingga mereka bisa mencintai-Nya, dan telah percaya bahwa jiwa dapat menerima: wahyu Tuhan, melalui sebuah pengalaman religius langsung – bukan melalui indera-indera atau kecerdasan – dan, dengan cara ini, memasuki keintiman dengan-Nya.
Tetapi kaum mistikus mengajarkan bahwa tak satu jiwa pun memiliki pengalaman langsung dengan Tuhan, kecuali dengan penjernihan dari dalam diri; pembersihan jiwa dari kecintaan pada diri sendiri dan dari hawa nafsu adalah bagian mendasar bagi mereka yang hendak mencapai Kebajikan dan Penglihatan Tuhan, demi kesempurnaan Kehidupan Abadi, yang mereka percaya dapat dicapai sekarang, adalah untuk melihat Tuhan dalam Dzat-Nya
DAFTAR PUSTAKA
Annemarie Scimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Pramono, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986,
Dr. Abu al-wafa’ al-gharnimi al-taf tazani: Sufi dari Zaman ke Zaman. Jakarta .PT Raja grafindo persada, 1985,
Dr.Asmaran As., M.A., Pengantar Studi Akhlak. Jakarta. PT raja grafindo persada. 1992
Harun Nasution, Falsafat & Mistisisme Dalam Islam, cet. 9, Jakarta: Bulan Bintang, 1995
http://id.wikipedia.org/wiki/Tasawuf
Simun: Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam.


[1] Luis ma’luf, kamus Al-Munjid, Al-katulikiyah, beirut, t.t., hlm. 194
[2] Abd. Hamid Yunus, Da’irah al-ma’rifah, II Asy Sya’b, cairo, t.t., hlm. 436.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Tasawuf
[4] Annemarie Scimmel, Dimensi Mistik Dalam Islam, terj. Sapardi Djoko Pramono, dkk, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986, hlm. 1-2
[5] Dr. Abu al-wafa’ al-gharnimi al-taf tazani: Sufi dari Zaman ke Zaman. Jakarta .PT Raja grafindo persada, 1985,hal 6

[6] Dr. Abu al-wafa’ al-gharnimi al-taf tazani: Sufi dari Zaman ke Zaman. Jakarta .PT Raja grafindo persada, 1985,hal 6
[7] Dr. Abu al-wafa’ al-gharnimi al-taf tazani: Sufi dari Zaman ke Zaman. Jakarta .PT Raja grafindo persada, 1985,hal 7
[8] Simun: Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam, 1997, hal 179

Tidak ada komentar:

Posting Komentar